Kamis, 18 Agustus 2011

Penangkaran Burung Melalui Pemeliharaan

KHOIRUNISA' AYU YULIASIH
AKRAB - Ahmad Yusuf tampak akrab dengan burung elang miliknya.

Penangkaran Burung Melalui Pemeliharaan

PEKALONGAN - Keindahan burung menjadi ketertarikan tersendiri bagi sebagian orang. Baik dari segi suara, warna bulu, hingga bentuknya yang indah lainnya. Namun begitu, manusia perlu juga melakukan penangkaran dengan cara memeliharanya dengan baik.
Demikian dikatakan Ahmad Yusuf yang beralamat di Banyurip Alit Gang 3B Nomor 298 saat ditemui Radar, Jumat (15/7) di taman bacaan 'Kompak' sebelah rumahnya.
Dirinya yang memelihara beberapa jenis burung itu sebagai sarana usaha penangkaran burung. Yusuf mengatakan jika usaha penangkarannya berawal dari bentuk kecintaannya terhadap sesama makhluk hidup. "Saya hobi burung itu awalnya sebagai bentuk kecintaan terhadap sesama makhluk hidup, sehingga timbul rasa ingin memelihara makhluk ciptaan Tuhan. Saya ingin mengembangkan penangkaran itu melalui pemeliharaan. Saya merasa sudah semakin langka karena diburu," ujarnya.
Ditambahkannya, jika burung peliharaannya itu ada beberapa macam. Ada jalak, cucak ijo, anis kembang, merpati, perkuter, deruk, merpati, kepodang, poksai, gagak, elang jawa, elang putih, beo hingga garuda.
"Saya itu memelihara beberapa macam burung dengan kisaran harga yang berbeda-beda. Untuk harga sendiri itu bervariasi. Harga jalak berkisar antara 100 ribu hingga 10 juta. Anis kembang berkisar antara 350 ribu sampai 10 juta. Kalau elang sudah ditawar sejodoh itu 10 juta. Beo sendiri berkisar mulai 2 jutaan. Deruk berkisar mulai 50 ribu. Sedangkan jalak berkisar 500 ribu. Poksai itu berkisar 300 ribu. Perkuter (perkutut lokal dengan tali pancuran) itu sekitar 500 ribu," bebernya.
Lanjutnya, dia mengalami pahit manis selama menekuni hobi tersebut. "Saya itu mengalami banyak pahit manis menekuni hobi burung. Hal itu dikarenakan harus rutin merawat pagi dan sore hari. Apalagi sudah banyak yang mati. Ya hampir ratusan. Yang bikin repot itu kan harus memandikan. Kemudian menyemprotkan antara pukul 07.00 sampai 08.00. Setelah itu dikeringkan kurang lebih setengah jam. Lalu juga memberikan pakan sesuai jadwal. Kalau kroto itu 3 kali dalam seminggu. Sedangkan untuk jangkrik itu sebagai cemilan. Buah-buahan seperti pisang, pepaya dan lain-lain itu untuk suplemen. Khusus untuk elang diberi makan daging," tuturnya.
Sambungnya jika pengobatan dengan tradisional. "Saya melakukan pengobatan dengan tradisional. Juga diberikan air infus. Air infus tersebut ternyata itu dari sari-sarian buah. Air itu didapatkan dari bekas pakai," katanya.
Menurutnya, burung jangan hanya digunakan untuk kepentingan bisnis belaka agar tidak mengalami kepunahan. Para pecinta burung juga harus berusaha untuk melakukan pengembangbiakan sehingga keseimbangan alam akan terjaga.
"Saya mengharapkan agar satwa khususnya burung tak hanya digunakan sebagai bisnis belaka. Jadi jangan hanya sekadar bisnis, tapi harus diimbangi dengan penangkaran agar ekosistem tetap seimbang," pungkasnya. (ap1/ap2)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar