Selasa, 10 Mei 2011

Ternak Perkutut Relatif Mudah

DALAL MUSLIMIN
BERFOTO - Pengurus Perkutut Mas Bird Farm (PM BF) saat berfoto bersama didepan penangkarannya, dari kiri ke kanan
Yusuf Wibisono, Zaenal Abidin, dan Kuswono.

Ternak Perkutut Relatif Mudah
*PM BF Andalkan Teori Probabilitas

KEDUNGWUNI - Menangkarkan burung perkutut dinilai relatif mudah dilakukan, karena burung yang satu ini memiliki ketahanan tubuh yang kuat dan tahan terhadap penyakit yang menyerang. Sehingga dapat dipastikan para penangkar perkutut, selain akan memperoleh anakan perkutut yang baik, juga melalui ternak perkutut ini akan memberikan pendapatan bisnis yang cukup menjanjikan.
Seperti yang sudah dijalankan oleh Yusuf Wibisono (46) dengan mendirikan Perkutut Mas Bird Farm (PM BF) ini. "Ternak perkutut relatif mudah, karena tidak mudah diserang penyakit dan tahan serta memiliki suara yang indah dari lainnya," ujar Yusuf yang didampingi Kuswono yang dipercaya mengurusi perkututnya.
Dikatakan, jika sebelum menggeluti perkutut dirinya merupakan pecinta burung ocehan berat. Namun seiring berjalannya waktu kemudian dia jatuh hati dengan merdunya anggungan suara perkutut. Karena menurutnya, pecinta ocehan jika sudah mentok dan bosan akan beralih memelihara perkutut yang relatif mudah itu. "Dulu saya pecinta ocehan berat yang selanjutnya berpindah ke perkutut. Sebab pada dasarnya, setiap penghobi burung berat pada akhirnya akan berakhir di perkutut karena suaranya yang lebih indah," tukasnya.
PM BF memiliki beberapa pusat penangkaran di beberapa daerah di Pekalongan, seperti di Pekajangan Gang 15 nomor 28 terdapat 65 sangkar, di Pisma Asri B2 nomor 39 terdapat 20 sangkar, di Paesan Selatan nomor 91 juga terdapat 20 sangkar. Selain itu juga terdapat sangkar yang ada di Mranggen Semarang sebanyak 6 unit. Dengan jumlah yang mencapai 111 sangkar itu, per bulan rata-rata menghabiskan pakan hingga 25 kilogram, sehingga menjadikan PM BF memungkinkan untuk menghasilkan anakan yang banyak dan bervariatif. "Saya ternak mulai tahun 2000 yang awalnya langsung 24 kandang secara bertahap, dan pada 2004 langsung menjadi 65 unit dan bertambah terus hingga sekarang," tutur Yusuf yang asli Pekalongan dan kini berdomisili di Mranggen dan seminggu sekali ke Pekalongan.
Dirinya sengaja membuat ratusan sangkar untuk penangkaran dengan dasar menggunakan teori probabilitas atau teori kemungkinan dan peluang. Sehingga dengan semakin banyak kandang dan indukan, diharapkan dapat lebih produktif dan efektif. Meski begitu, pihaknya tidak sembarangan dalam mencari indukan, agar anakan yang dihasilkan memiliki kualitas suara yang tinggi. "Dengan begini tentunya lebih besar untuk menghasilkan burung yang bagus," ujarnya. Meskipun, imbuhnya, tidak ada standarisasi burung yang bagus seperti apa. "Caranya melalui perkawinan silang untuk menghasilkan anakan berkualitas, namun ini juga ada istilah nasib juga. Sebab belum tentu juga, indukan yang bagus akan langsung menghasilkan anakan yang bagus. Yang penting kita harus berani riset dan jeli pilih indukan," bebernya.
Yusuf memberikan tekhnik awal kepada penggemar yang tertarik untuk menangkarkan perkutut, agar bisa menghasilkan anakan perkutut yang berkualitas. "Pilih indukan yang tepat menurut insting masing-masing, karena tidak ada standarisasi burung yang bagus," jelasnya. Tentunya, ketajaman insting itu perlu dilatih dengan berdasarkan pengalaman juga, baik dengan praktik sendiri atau bertanya kepada para penangkar perkutut yang sudah lama menekuninya. Selanjutnya, mengetahui metode inbrid dan linebrid yang akan menghasilkan perkutut jawara. "Intinya perkawinan pada burung, itupun tergantung nasib juga. Sebab tidak ada yang ahli dalam ternak, semua kuasa Allah," tambahnya.
Untuk itu dengan teori probabilitas lah, dia mecoba menghasilkan perkutut yang bagus suaranya. Dengan asumsi anakan yang dihasilkan dari ratusan sangkar tetap memiliki nilai sendiri di pasaran. "Senasib-nasib perkutut, dari unsur bisnis masih untung. Sebab sejelek apapun itu masih bisa dijual di pasaran dari harga Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribuan," kata dia yang sudah memiliki pangsa pasar di beberapa kota besar, seperti Semarang, Purwodadi, Jakarta hingga Lampung, serta pernah perkututnya yang bernama 'Piko' dibeli orang Semarang seharga Rp 5 juta dan dari sangkar 'Bumerang' laku Rp 15 juta yang dibeli orang Indramayu Jawa Barat. "Tapi saya low profile saja dan tidak gembar-gembor perkutut ini bagus, biar mereka mengamati sendiri di kandang," lanjutnya.
Dirinya yang low profile mengibaratkan diri seperti baru lulus TK dan baru masuk SD dalam hal menangkarkan perkutut, sehingga masih perlu banyak belajar tentang perkutut kepada orang lain yang paham perkutut. Meski begitu, pihaknya memberikan materi indukan yang berkualitas berasal dari MTG milik H Gunawan yang asli Pekalongan dan tinggal di Bekasi. "Indukan rata-rata bagus karena sudah dirombak total dengan materi darah baru dan bisa dihandalkan dari materi MTG,".
Bagi anda yang berminat bisa kesana dan akan dibimbing oleh Kuswono, Shocheb dan Zaenal Abidin yang dipercaya mengurusi perkututnya sehari-hari. "Kami siap kedatangan teman-teman kung yang akan belajar briding bersama, dengan harga perkutut yang tidak mahal dari perkutut rumahan, lapangan hingga indukan," ujar Kusworo. (dalal)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar